Dunia adita
“Hey!! lo anya kan?” Tanya seseorang yang tak ku kenal sebelumnya
“Sory salah orang kali lo?” ucap ku cuek.
“Terus kalo gitu nama lo siapa dong?” lanjutnya.
Raut mukaku seketika berubah, menatapnya mulai dari ujung kaki sampai ujung rambut dan kembali lagi dari ujung rambut ke ujung kaki, begitu heran nya aku, ketika aku mampu menebak apa yang dia maksud. Aku tak begitu lagi mempedulikannya, aku berlalu seketika.
“Gue Yoga? Lo suka denger musik juga yah?” ucapnya mengikuti langkahku.
“Iyah, kenapa?” ucapku sedikit malas.
“Berarti kita sama yahh...emang jodoh ya?” lanjutnya.
“Duhh.. plis dong. Lo tuh aneh banget yahh, udahlah gue capek ngeladenin lo!!” ucapku berlalu.
“Woy gue kan belum tau nama lo?” teriaknya sambil tersenyum.
Mengapa tempat favorit ku itu justru membuatku menemukan makhluk aneh tak dikenal itu? Hariku makin bermasalah sejakku bertemu dengannya, sampai dirumah aku lagi-lagi di pusingkan oleh masalah keluargaku, pacar ku yang udah ketahuan selingkuh sekarang terang-terangan jalan sama cewek baru nya didepanku, nilai fisika ku tiba-tiba lompat 13 lantai dari yang seharusnya, dan aku juga ketinggalan nonton konser netral lantaran harus balikin kaset pinjaman ku, duhh pokoknya dunia ku serasa lebih berantakan dari sebelumnya.
***
“Lho kok lo nyalahin dia sih” ucap dewi.
“Iya juga yah kenapa gue nyalahin dia. Tapi wi, rasanya setelah gue ketemu dia gue sial banget” ucapku ngotot.
“Halah...terserah lo aja dehh? Oia gue baru jadian neh sama cowok deket rumah gue” ucapnya mesem-mesem.
“Ah elo?? Gue kan lagi berduka cita nih gara-gara si kadal brengsek jelek bego gila itu mutusin gue buat si nenek ganjen ga jelas itu”
“Weizzzz sabar bu...hebat juga lo ngerangkai kata indah buat mereka, hhee” ucapnya sembari tertawa.
Aku ikut tersenyum dan coba lupakan nya.
“Oia gimana kalo lo cari cowok lagi? Mmmm...gue bantuin deh?”ucapnya antusias
“Lo dikira gampang apa nyari cowok, tinggal mungut di jalan? Sussssahhh bu!! masalah penampilan, nilai gue paling cuma 5. Pake modal apa gue...?” ucapku panjang.
“Lo tuh unik lagi...tenang aja gue punya planning buat lo, dan lo tinggal duduk manis aja deh” ucap nya sambil berlalu.
Aku hanya diam tak mengerti dan langsung berlalu seusai pelajaran .
***
Aku punya seorang kakak perempuan, dengan pergaulan bebasnya. Dia seorang pengguna narkoba dan menjadi penghuni panti rehabilitasi 1 tahun belakangan ini. Mungkin karena itu kedua orang tua ku saling menyalahkan, rumah sering jadi ladang pertempuran. Aku tak tahan melihat mereka selalu saja bertengkar, aku tak pernah menemukan kedamaian dirumahku, apalagi sejak kakak ku tak lagi disini. Rumah ku semakin hancur, begitu juga dengan duniaku.
“Hei ketemu lagi kita!!” ucap seseorang mengahancurkan lamunan ku di toko buku itu.
“Hah!! elo?” ucapku kaget.
“Wah...ternyata lo mikirin gue juga yah, buktinya lo masih inget sama gue” ucapnya.
“aduhh.. .PEDE banget lo? Kenapa sih gue musti ketemu lo lagi?” ucapku.
“Ye...itu berati kita jodoh. Kan udah gue bilang dari kemaren?” ucapnya cengengesan.
Aku tak lagi berkomentar.
“Hei lo kok cuekin gue mulu sih, gue jelek banget ya? Perasaan gue udah ganteng banget” ucapnya bangga.
“Yah...nih anak??makin ilfil gue “
“Hhee,, gue seneng deh liat tampang bete lo itu, makin cakep lo! walaupun rada dekil sih”
Tanpa banyak kata, lagi-lagi aku langsung berlalu meninggalkannya, tetapi ketika aku kembali melihatnya dari jauh, senyumnya seakan tak tertahan tuk kembali menyapaku. Belum pernah aku melihat senyum seindah itu. Kalau boleh jujur perkataannya sesuai dengan kenyataan, dia memang tidak bisa dikatakan jelek. Bisa di bilang ketampanannya masih 5 lantai di atas Bayu si kadal jelek itu, tak bisa di pungkiri dia memang sosok yang menarik, kalau saja dia tak bertingkah aneh seperti itu.
Malamnya aku tak pulang kerumah, aku kembali menginap dirumah dewi, sahabat yang selama ini jadi tempat bersandarku. Besok Dewi akan mengenalkan ku pada pacar baru nya itu, entah tradisi atau apa, tapi setiap kali salah satu di antara kami punya pacar, kami harus mengenalkannya.
***
Hari ini Dewi membuatku tampak aneh dengan baju-baju yang dia belikan untukku, aku pun semakin heran dengan senyum-senyum mencurigakan yang dia berikan, tapi aku tak bisa sedikitpun menolak apa yang dia mau, hanya dia yang bisa mengerti aku. Dia adalah sahabat yang begitu setia menemaniku, di kesendirian ku, tawa ku selama hampir sepuluh tahun. Dia sahabat ku dari kecil dan aku begitu menyayanginya. Tak terasa akhirnya aku dan dewi sampai di tempat janjian, aku seperti orang aneh dengan baju babydoll ini, aku merasa tak pantas mengunakannya, aku merasa ditertawakan semua orang.
“Ini dit, kenalin cowok gue” ucap Dewi.
“Oh ini yang namanya Indra? Gue Adit” ucapku sambil mengulurkan tangan.
“Huzz...Adita namanya”ucap Dewi membetulkan.
“Oh ini sahabat yang sering kamu ceritain, katanya tomboy? Kok sekarang lagi imut banget” ucap Indra cengesan.
“Yahh...ini kan gara-gara cewek lo tuh” ucapku sedikit kesal
“Gue kan cuma pengen ngerubah lo jadi barbie” ucap Dewi sambil sedikit tertawa.
“Barbie? Yang bener aja ini mah ondel-ondel tau?” ucapku.
“Hhaaa aneh lo ah, cakep kok” ucap Indra.
“Apaan sih rame banget” ucap seseorang yang muncul dari belakangku.
“Woy, bro! Sini cepet!!gue kenalin sama cewek gue, sama anak ini juga nih” ucap indra antusias.
Aku menoleh kebelakang.
”Hah!! Elo” ucap kami hampir bersamaan.
“Udah pada kenal ya? Kok bisa sih” ucap mereka.
“Ya gitu deh..” ucapnya sambil mesem-mesem.
“Nggak kok kita cuma pernah ketemu aja” ucap ku sedikit menolak.
“Duh beneran nih kalo kita jodoh??” ucap Yoga berbisik.
Aku tak bisa berkata apa-apa kali ini, sekarang aku terpaksa semotor dengannya. Dewi dan Indra mengajak kita ke pantai sore ini, aku benar-benar tak tahan dengan keanehannya tapi ternyata dia orang yang cukup menyenangkan. Didekatnya aku merasakan kenyamanan yang tak kurasakan dengan Bayu. Dia begitu melindungiku, begitu menghargaiku, harusnya aku tak menilainya hanya dari sikapnya saat bertemu dengan ku tempo hari, tapi aku semakin mengerti ketika kali ini aku mulai mengenalnya lebih dekat. Boleh ku katakan aku mulai menyukainya. Mengapa kali ini aku justru memujinya?? aku jadi teringat perkataan ku tentangnya saat itu .
“Gue balik dulu ya, thanks buat hari ini, Dit. Akhirnya gue tau nama lo” ucapnya sedikit tertawa
“Hhee, jadi ga enak. Ya sama-sama, thanks juga ya buat hari ini. Lo beda aja dari biasanya yang gue liat di toko kaset. Bye” ucapku sembari membalas tawanya.
“Bye... oia ada yang lupa? Gue pengen ngomong sesuatu?” ucapnya serius.
“Apa?” ucap ku agak berdebar.
“Lo aneh pake baju itu” ucapnya sambil berlalu.
“Heh!! Kurang ajar” teriakku. Aku tak bisa lagi mengejarnya. Sial.
***
Entah apa yang kurasakan kini, aku merasakan hal yang belum pernah ku rasakan sebelumnya. Aku mulai mengikis ucapan-ucapan ku dulu tentang Yoga, ucapan yang membuatku mulai menertawakan diriku sendiri. Karena kali ini aku malah justru lebih sering memujinya. Aku semakin tak sadar kalau aku begitu menantinya kembali tunjukan senyum manis nya dan kembali lagi mengajakku menikmati malam seperti kala itu, ketika aku mulai mengenal sosoknya lebih dalam. Entah kekaguman atau mungkin...?
Dering handphone ku begitu mengganggu tidur nyenyak ku malam ini, aku pun terbangun malas dari ranjangku yang berantakan.
_Lo cantik kok pake baju cewek gitu ^^_
Aku tersentak kaget begitu melihat sms itu, sepertinya aku bisa menebak kalau itu dari Yoga.
Pagi ini lagi-lagi tak cerah untukku, istana megah ini kembali tak sedap di pandang. Sampai saat ini pun aku tak mengerti apa yang harus ku lakukan jika semua ini kembali harus terjadi. Biasanya aku hanya bisa pergi menjauh dari mereka, sudah letih aku menangisi hidup, menangisi sesuatu yang tak pernah mau ditangisi. Sekarang aku pergi entah mau kemana, aku pun tak tahu harus datang kemana, ceritakan semua ini atau tidak.
Aku kini menemui kakak ku di panti, yang biasa aku lakukan seminggu sekali, kini terpaksa ku percepat. Aku ingin berbagi dengan kakakku yang begitu aku cintai dan yang lebih menyedihkan orang tuaku tak lagi peduli dengan kakakku. Mereka tak pernah sedikitpun meluangkan waktu mereka untuk sekedar datang menjenguk kakak di panti rehabilitasi, begitu aku sangat membenci mereka. Aku ingin cepat-cepat menyelesaikan sekolahku dan pergi jauh dari mereka. Egois memang, tapi sudahlah.
Kakakku masih terlihat sedih dengan semua ini, sebenarnya dia cewek yang baik. Hanya saja dia tidak terlalu kuat untuk ikut terlibat dalam peperangan mama versus papa dirumahku. Aku mengerti sekali itu, karena akupun merasa tak lagi kuat dengan semua ini.
***
“Dit, lo ngapain sendirian disini?”
Aku langsung menghapus air mataku.
“Hehe, gue Cuma nikmatin pemandangan nih? Nungguin ujan, udah mendung gitu? padahal siang bolong kaya gini..” ucapku mengalihkan.
“Sekarangkan emang udah sore??udah jam setengah 6” ucap Yoga heran.
“Oooh?” ucapku singkat, terbesit rasa sesal berkata terlalu banyak tadi.
“Lo bengong ya dari tadi? Udah jangan boong ma gue”
“Hhee, ngga juga sih? Lo ngapain disini, Ga?” ucapku cepat.
“Yang harusnya nanya kan gue, lo ngapain disini bengong-bengong nggak jelas?”
“Apaan sih lo? Ngaco deh! gue nggak bengong. Udah dulu ya, gue ada urusan penting nih”ucap ku cepat-cepat berlalu.
“Dit, lo ngga bisa boong sama gue? Cerita lah dit, masa lo ngga percaya sama gue” ucapnya menatapku dalam.
Air mataku sekejap tumpah, seakan aku meluapkan semua tangis ku yang tertahan selama ini. Tangisku yang bahkan tak mampu menetes di depan Dewi sekalipun, kini aku mampu menangis di depan Yoga. Aku yang terlihat begitu kuat dan tidak mungkin menangis, kini terlihat begitu lemah dihadapannya. Segenap rasa yang mengganjal itu, seketika lenyap setelahnya. Ternyata aku harus menangis, itu yang membuatku sedikit lebih lega, mengurangi rasa sesak di dada ku. Aku bahkan tak mengerti mengapa aku bisa melakukan itu di depannya, dia begitu membuatku merasa nyaman. Aku rasa aku sungguh mencintainya. Aku ingin hubungan ini lebih dari sekedar bersahabat.
***
Malam minggu kali ini, lagi-lagi jadi malam minggu kelabu untukku. Tak terasa sudah 2 minggu lebih Bayu tak lagi mampir kerumahku, kalau sedang moment-moment seperti ini aku kembali teringat olehnya. Tapi itu membuatku merasa bodoh, aku merasa dia terlalu mudah membohongiku. Aku bahkan hampir tidak akan curiga dengan perselingkuhannya dengan Karin teman sekelasku, kalau saja saat itu aku tak memergoki mereka berciuman di kelas sepulang sekolah. Tapi aku bersyukur, mungkin Tuhan membuka mataku untuk menyaksikan kebohongan dan penghianatan itu secara langsung sehingga aku tahu Bayu memang tak pantas untukku.
“Yoga? Ngapain disini?”ucapku terkejut.
“Ngapelin lo? Katanya kita mau jalan, kok belum siap sayang”
“Apan sih? Mulai deh lo eror lagi?” ucapku sedikit tersenyum.
“Udah deh, cepetan ganti baju? Ikut gue!”ucapnya.
“Ye...siapa juga yang mau ikut lo?”
“Yaudah, kalo ngga mau?” ucapnya sambil berlalu.
“Yahh...kok langsung pergi gitu sih? Paksa dikit kek” sesalku dalam hati.
Aku lalu beranjak dari teras rumahku dan berjalan kedalam rumah.
“Hup..kena deh lo? Udah lah ngga usah ganti baju?” ucap Yoga yang tiba-tiba menggendongku dari belakang.
“Ga, apa-apaan sih lo? Lepasin gue nggak, gila lo! Kalo orang-orang liat lo bisa disangka nyulik gue!!” ucapku yang masih terkejut
“Biarin!! gue emang mau nyulik lo?”
Aku kini mencoba sembunyikan senyumku. Aku senang dengan penculikan ini.
Yoga membawaku ke suatu tempat, indah sekali. Disana dia melukisku, aku baru tahu kalau ternyata dia mempunyai bakat hebat ini. Dia membawaku ke galery lukisannya. Ini bukan sesuatu yang biasa, galery nya berada di atas salah satu gedung tinggi dikota ini, dengan dinding dan atap kaca. Setengah dari atap gedung ini di biarkan terbuka, begitu indahnya, lampu kota terlihat sangat indah dari sini.
“Kamu seneng kan, malam ini? Lukisan nya, suatu saat akan aku kasih ke kamu?” ucap Yoga lembut.
“Kamu? Kok aneh sih, nggak biasanya?” ucapku sedikit heran
“Nggak boleh nih pake aku-kamu?” ucapnya makin lembut disertai senyuman.
“Boleh kok” ucapku heran mesem-mesem.
Aku lagi-lagi tak bisa mengerti setiap detil kelakuan Yoga yang berubah-ubah.
“Hey, kok bengong?” ucapnya yang kali ini menatapku
Aku merasakan ketenangan batin yang luar biasa ketika bersamanya, aku tak sangggup lagi menolak untuk akui bahwa aku mencintainya. Dia terus menatapku dalam penuh arti, secara otomatis kelopak mataku menutup kedua bulatannya. Kini perasaan ku semakin tak keruan, dag dig dug, serasa lompat-lompat hampir copot. Sungguh aku semakin tak mengerti.
“Dit…”
“ Adit…? Kok lo tutup mata”
Aku terkejut dan langsung membuka mata. Cengar-cengir malu kucing. Ingin rasanya aku geser beberapa langkah dari nya. Lalu menceburkan mukaku ke ember ber-diameter 100 senti.
“Udah malem…..anterin gue pulang yuk” ucapku masih malu.
“Iya.. .”
Hari ini aku melihat Yoga bersama seorang gadis cantik begitu jauh berbeda dengan ku, mereka terlihat sangat tergesa-gesa terkesan tak ingin terlihat oleh siapapun. Aku merasa tertipu, walaupun aku tidak pernah memilikinya. Aku benar-benar merasa di tusuk dari belakang, sangat-sangat terluka hati ini. Aku kira dia lah yang menyembuhkanku dari luka batinku selama ini tapi ternyata dia yang merobek-robek lagi lukaku yang mulai kering. Lagi-lagi aku terpuruk, tapi aku tak harus bertahan dengan semua ini aku harus kembali bangkit tersenyum dan lupakan.
“Hehehe..” dewi yang tiba-tiba cengengesan di depan ku.
“Kenapa sih lo? Aneh deh” ucapku heran.
“Nggak...gue cuma salut aja sama lo? Lo bisa begitu cepetnya senyum lagi setelah semua yang lo alamin” ucap dewi sambil terus menatapku
“Hheee... ya trus gue musti gimana dong? Gue sedih pun nggak ada yang care. Yah.. gue so enjoy ja” ucapku santai
“Iya dehh..lo mang kuat? Oia gimana kakak lo, udah pulang dari rehab?”
“Udah.. tapi gue nggak tau dimana dia sekarang? Mungkin dia pergi gara-gara ortu gw mau cerai”
“Hah...jadi beneran mau cerai, lo sendiri gimana? Oia masa lo nggak tau sih kakak lo dimana?” ucap dewi.
“Iyah... beneran, gue juga nggak bisa ngapa-ngapain kan!!? Gue bener-bener ga tau kakak gue dimana, tapi dia udah janji kok ngasih tau gue”
“Sabar ya Dit, gue yakin banget lo pasti bisa ngejalaninnya” ucap Dewi seperti meratapi nasibku.
“Iyah Dedew...udah yuk balik”
Aku memang tidak terlalu kuat, hanya saja aku merasa harus kuat harus bisa berdiri sendiri harus terus lakukan yang terbaik dalam hidupku, aku tak boleh terlihat lemah, aku selalu belajar dari semua ini walau untuk mengingatnya saja aku tak begitu kuat menahan tangisku.
***
“Hey..gue nanda,lo Adita kan? gue kesini mau nyampein pesen dari Yoga” ucap seorang cewek cantik di depan gerbang sekolah pagi ini.
“Pesen apa??” ucapku kaget dan terus memperhatikan cewek cantik itu.
“Katanya dia pengen ketemu lo Dit” ucap cewek itu.
“Udah gitu doang? Dia nggak mau usaha langsung ketemu gue? Toh gampang kok buat ketemu gue” ucapku emosi setelah ingat siapa cewek itu.
“Bukan gitu, dia bukannya nggak mau usaha cuma dia lagi ada... urusan? Iyah urusan?” ucap nya ragu.
“Tuh kan lo aja ragu ngomongnya, udahlah bilang sama dia gue nggak mau ketemu dia” ucapku sambil berlalu.
“Tunggu Dit, lo nggak ngerti?” teriaknya.
“Emang gue nggak mau ngerti” ucapku tak lagi peduli.
Sampai dirumah aku masih tak bisa hilangkan bayangan wajah cewek cantik tadi, ternyata dia cewek yang sama kulihat bersama Yoga 3 bulan yang lalu, terakhir kali aku melihatnya. Yang membuatku begitu kecewa dengannya. Aku tak habis pikir kenapa dia mengirim cewek itu untuk menyampaikan pesannya.
***
“Dit..bisa anter gue kesuatu tempat??” ucap seseorang.
“Yoga? Lo ngapain disini?” ucapku begitu terkejut.
“Bisa kan anter gue?” ucapnya singkat.
“Gue nggak mau” ucapku walau sembari berharap dia memaksaku ikut dengannya.
“Hhe, siapa juga yang mau ngajak lo, gue cuma minta anter doang” ucapnya.
“Emang lo mau kemana?” ucapku masih ketus.
“Cepet Dit, nanti gue ketinggalan” ucapnya sambil menarik tanganku.
“Yaudah gue anter” ucapku sambil mengikuti langkahnya.
“Nah gitu dong kan gue jadi seneng” ucapnya tersenyum.
Hening sejenak...
5 menit, 10 menit diperjalanan tak sedikitpun kami bersuara, padahal biasanya Yoga paling cerewet. Akhirnya aku yang membuka mulut.
“Lo kemana aja, Ga?” ucapku ragu.
“Gue nggak kemana-mana Dit, gue tetep dihati lo?” ucapnya lagi-lagi tersenyum.
“Jangan becanda deh, gue serius? Terus cewek itu siapa?” ucapku.
“Udah lah jangan jealous? Bentar lagi lo pasti akan tau” ucapnya kembali dengan tersenyum.
“Siapa yang jealous? Kita mau kemana sih?” ucapku sedikit mengalihkan.
Hanya di balas dengan senyuman.
Kami sampai disebuah rumah dengan kebun bunga kecil di depannya..begitu sederhana tapi indah sekali, ada kedamaian disana. Aku di tuntunnya duduk dibawah pohon besar itu, dengan tetap diam dan tersenyum.
“Maafin aku yah Dit...aku udah pergi dari kamu” ucapnya.
“Aku sempet kesel, tapi aku akan maafin kamu kalo kamu bisa jelasin ini semua ke aku?” ucapku.
“Dengerin aku Adita, kamu harus bisa tanpa aku, aku nggak bisa lagi sama kamu” ucapnya sambil menatapku.
“Kenapa?” pertanyaan singkat itu memulai lagi deritaku.
“ Aku sayang banget sama kamu dan selamanya akan tetap begitu..makasih yah Dit udah jadi bagian dari hidupku walaupun cuma sebentar, makasih juga dah mau nganter aku kesini. Mau dengerin aku, itu tandanya kamu maafin aku” ucapnya ingin beranjak. Aku menarik tangannya.
“Apa kamu tinggalin aku buat cewe itu? Jawab Ga” ucapku hampir menangis.
Dia hanya tersenyum, beranjak dan pergi dariku. Aku coba menarik tangannya, tapi dia melepaskan genggamanku. Dia pergi tak lagi menoleh.
“Aku benci sama dia!!” ucapku keras.
***
Aku terbangun dari tidurku, mendapati dewi, Indra dan cewek cantik kiriman Yoga, mimpi itu seakan nyata. Aku kembali terheran melihatnya.
“Dewi? Lo ngapain disini? Kok sama dia sih, kan gue udah bilang sama lo Wi dia itu...”
“Sssttt..Dit gue pengen ngomong sama lo sebentar?” ucap dewi memotong tampaknya dia begitu serius.
“Gue juga lagi ngomong Wi, dia itu cewek yang waktu itu gue ceritain. Lo tu harus tau kalo dia..”
“Plis Dit dengerin gue!! Yoga udah nggak ada dit, dia udah meningggal” ucap dewi sambil memelukku.
“ Dit kali ini percaya sama gue, mavin gue. Gue nggak berhasil bujuk lo buat dateng nemuin dia sebelum..” ucap cewek cantik itu terbata-bata.
Aku berteriak sejadi-jadinya, begitu sesak dada ini mendengarnya bahkan aku masih begitu berharap kalau mereka hanya bercanda. Aku menyesal, aku benar-benar tak bisa memaafkan diriku sendiri. Aku tak henti menangis, Aku langsung berlari menuju pemakamannya, aku bahkan tak bisa penuhi permintaan terakhirnya. Aku menolak bertemu, padahal pertemuan itu terakhir baginya. Mimpi itu benar-benar nyata, aku tak lagi bisa menahannya, tak lagi bisa bersamanya. Dia pergi selamanya.
_Adita, mungkin saat kamu baca suratku ini. Aku udah nggak bisa bertemu sama kamu lagi. Karena penyakit leukimia ini. Tapi kamu nggak perlu sedih, aku yakin kamu pasti bisa tanpa aku. Aku ngerti kenapa saat itu kamu nggak bisa nemuin aku. Sekali lagi maafin aku, 3 bulan ini aku ninggalin kamu, aku pikir aku akan bisa hidup lebih lama lagi kalau aku berobat. Hidup lebih lama lagi buat kamu, tapi kayaknya aku udah nggak kuat lagi. Kalau tau begini rasanya lebih baik aku selalu di deket kamu sampai saatnya datang. Hhe, tapi paling nggak aku udah selesain lukisan kamu, udah aku bingkai. Dan sekarang lukisan itu ada sama sepupu aku yang nemuin kamu itu, dia akan ngasih lukisan itu bareng sama surat ini. Makasih yah Dit, sekali lagi jangan sedih ya. Aku sayang sama kamu....Udah dulu ya dit, aku udah nggak kuat...aku mau tidur. i love you forever dit_
Aku menerima lukisan itu, lukisan terakhir dari orang yang begitu aku cintai...
the end
Tidak ada komentar:
Posting Komentar